Sabtu, 25 Agustus 2012

Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran PAI

Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran PAI

tokoniaga - Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran PAIDalam proses pembelajaran tentunya tidak semulus dengan apa yang kita harapkan, akan tetapi ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembelajaran karena proses ini berkaitan dengan tuntas atau tidaknya hasil pembelajaran, yaitu ada faktor intern dan faktor ekstern.
Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran PAI
a.       Faktor intern
1.      Sikap terhadap belajar
Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian tentang sesuatu, mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, atau mengabaiakan[1].
2.      Motifasi belajar
Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Motivasi belajar pada diri siswa dapat menjadi lemah. Lemahnya motivasi atau tiadanya motifasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar. Selanjutnya, mutu hasil belajar akan menjadi rendah[2].
3.      Konsentrasi belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran. Pemusatan perhatian tersebut tertuju pada isi bahan belajar maupun proses memperolehnya[3].
4.      Mengolah bahan belajar
Mengolah bahan belajar merupakan kemampuan siswa untuk menerima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa[4].
5.      Menyimpan perolehan hasil belajar
Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam waktu pendek dan waktu yang lama. Kemampuan menyimpan pesan yang pendek berarti hasil belajar cepat di lipakan. Kemampuan menyimpan pesan yang lama berarti hasil belajar tetap di miliki siswa[5].
6.      Menggali hasil belajar yang tersimpan
Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah di terima. Dalam hal pesan baru, maka siswa akan memperkuat pesan dengan cara mempelajari kembali, atau mengaitkannya dengan bahan lama. Dalam hal pesaan lama, maka siswa akan memanggil atau membangkitkan pesan dan pengalaman lama untuk suatu unjuk hasil belajar[6].
7.      Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar
Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan belajar. Siswa menunjukkan bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau mentransfer hasil belajar. Dari pengalaman sehari-hari di sekolah diketahui bahwa ada sebagian siswa tidak mampu berprestasi dengan baik[7].
8.      Rasa percaya diri
Rasa percaya diri timbul dari keinginanb mewujudkan diri bertindak dan berhasil. Dari segi perkembangan, rasa percaya diri dapat timbul berkat adanya pengakuan dari lingkungan. Dalam proses belajar di ketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian “perwujudan diri” yang di akui oleh guru dan rekan sejawad siswa. Makin sering berhasil menyelesaikan tugas, maka semakin memperoleh pengakuan umum, dan selanjutnya rasa percaya diri semakin kuat[8].
9.      Intelegensi dan keberhasilan belajar
Menurut Wechler (Monk & Knoers, Siti Rahayu Haditono) -Sebagaimana dikutib oleh Drs. Dimyati dan Drs. Mudjiono-  Intelegensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik, dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Kecakapan terseburt menjadi actual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar atau kehidupan sehari-hari[9].
10.  Kebiasaan belajar
Dalam kegiatan sehari hari ditemukannya adanya kebiasaan belajar yang kurang baik kebiasaan tersebut antara lain belajar pada ahir semester, belajar tidak teratur, menyia-nyiakan kesempatan belajar, bersekolah hanya untuk bergengsi, bergaya minta belas kasihan tanpa belajar. Dan hal-hal yang menyimpang dalam proses belajar yang lainnya[10].
11.  Cita-cita siswa
Dalam rangka tugas perkembangan, pada umumnya setiap anak memiliki cita-cita dalam hidup. Cita-cita merupakan motivasi intrinsik. Tetapi adakalanya “gambaran yang jelas” tentang tokoh teladan bagi siswa yang belum ada. Cita-cita sebagai motifasi intrinsic perlu didikkan. Didikan memiliki cita-cita harus di mulai sejak sekolah dasar[11]Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran PAI
b.      Faktor ekstern
1.      Guru sebagai pembina siswa belajar
Guru adalah pengajar yang mendidik. Ia tidak hanya mengajar bidang studi yang sesuai dengan keahliannya, tetapi juga menjadi pendidik generasi muda bangsanya. Sebagi pendidik, ia memusatkan perhatian pada kepribadian siswa, khususnya berkenaan dengan kebangkitan belajar. Kebangkitan belajar tersebut merupakan wujud emansipasi diri siswa. Sebagai guru yang pengajar, ia bertugas mengelola kegiatan belajar siswa di sekolah[12].
2.      Prasarana dan sarana pembelajaran
Prasarana pembelajaran meliputi gedung sekolah, ruang belajar, lapangan olah raga, ruang ibadah, ruang kesenian, dan peralatan olah raga. Sarana pembelajaran meliputi buku pelajaran, buku bacaan, alat dan fasilitas laboratorium sekolah, dan berbagai media pembelajaran yang lain. Lengkapm\nya prasarana dan sarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik.
Prasarana dan sarana proses belajara adalah barang mahal. Barang-barang tersebut dibeli dengan uang pemerintah dan masyarakat. Maksud pembelian tersebut adalah untuk mempermudah siswa belajar. Dengan tersedianya prssarana dan sarana belajar berarti menuntut guru dan siswa dalam menggunakannya[13].
3.      Kebijakan penilaian
Proses belajar sampai pada puncaknya pada hasil belajar siswa atau unjuk kerja siswa. Sebagai suatu hasil maka dengan unjuk kerja tersebut, proses belajar berhenti untuk sementara. Dan terjadilah penilaian. Dengan penilaian yang dimaksud adalah penentuan sampai sesuatu dipandang berharga, bermutu, atau bernilai. Ukuran tentang hal itu berharga, bermutu atau bernilai dating dari orang lain. Dalam penilaian hasil belajar, maka penentu keberhasilan belajar tersebut adalah guru. Guru adalah pemegang kunci pemebelajaran. Guru menyusun desain pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar[14].
4.      Lingkungan sosial di sekolah
Siswa-siswa disekolah membentuk suatu lingkungan pergaulan, yang disebut lingkungan sosial siswa. Dalam lingkungan sosial siswa tersebut ditemukan adanya keduduka dan peranan tertentu. Sebagai lustrasi, seorang siswa dapat menjabat sebagai pengurus kelas, sebagai ketua kelas, dan sebagainya.
Tiap siswa berada dalam lingkungan sosial siswa di sekolah. Ia memiliki kedudukan dan peranan yang diakui sesame. Jika seorang siswa diterima, maka ia dengan mudah menyesuaikan diri dan segera dapat belajar. Sebaliknya, jika ia tertolak, maka ia akan merasa tertekan[15].
5.      Kurikulum sekolah
Program pembelajaran di sekolah mendasarkan diri pada suatu kurikulum. Kurikulum yang diberlakukan sekolah adalah kurikulum nasional yang disahkan oleh pemerintah, atau suatu kurikulum yang disahkan oleh suatu yayasan pendidikan. Kurikulum sekolah tersebut berisi tujuan pendidikan, isi pendidikan, kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi. Berdasarkan kurikulum tersebut, guru menyusun desain instruksional untuk membelajarkan siswa. Hal itu berarti bahwa program pembelajaran di sekolah sesuai dengan system pendidikan nasional[16]Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran PAI



[1]. Dimyati, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta : Rineka Cipta, 2009) hlm. 239
[2] Ibid.
[3] . Ibid.
[4] . Ibid.hlm. 240
[5] . Ibid.hlm. 241
[6] . Ibid.hlm. 242
[7] . Ibid.hlm. 243
[8] . Ibid.hlm. 245
[9] . Ibid.
[10] . Ibid.hlm. 246
[11] . Ibid.hlm. 247
[12] . Ibid.hlm. 248
[13] . Ibid. hlm. 250
[14] . Ibid.
[15] . Ibid. hlm. 252
[16] . Ibid. hlm. 253

Terkait

Description: Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran PAI Rating: 4.5 Reviewer: Firman Wa Firli ItemReviewed: Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran PAI
Al
Mbah Qopet Updated at: 08.55

0 komentar:

Posting Komentar